BAB faktor yang penting bagi sebuah organisasi. Pengukuran tersebut

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

      

1.1   Latar
Belakang

       Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting
bagi sebuah perusahaan. Pengukuran tersebut,
dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan serta sebagai dasar penyusunan
imbalan dalam perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya menitikberatkan pada sisi
keuangan. Manajer yang
berhasil mencapai tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan memperoleh imbalan yang baik dari
perusahaan.

Kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan
oleh suatu organisasi di dalam perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu
pada standar yang ditetapkan. Kinerja perusahaan hendaknya merupakan hasil yang
dapat diukur dan mampu menggambarkan kondisi perusahaan dari berbagai ukuran
yang disepakati. Menurut Muhamad Mahsun (2013: 25), Kinerja merupakan gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam
strategi suatu organisasi. Untuk mengetahui kinerja yang dicapai maka dilakukan
pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja adalah tindakan pengukuran yang
dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada
perusahaan. Hasil dari pengukuran kinerja tersebut kemudian digunakan sebagai
informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik dimana
perusahaan memerlukan penyesuaian atas aktivitas perencanaan dan
pengendalian.  

Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang
penting bagi sebuah organisasi. Pengukuran tersebut dapat digunakan sebagai
penyusun strategi organisasi atau perusahaan. Sistem pengukuran kinerja dapat
dijadikan sebagai alat pengendalian organisasi, karena pengukuran kinerja
dibuat dengan menetapkan reward dan punishment system. 

Sistem pengukuran kinerja yang hanya berdasarkan
aspek keuangan saja yang sering dikenal dengan sistem pengukuran kinerja
tradisional, hanya mencerminkan keberhasilan organisasi dalam jangka pendek
tanpa memikirkan keberhasilan jangka panjang. Pengukuran kinerja yang hanya
menitikberatkan pada ukuran keuangan, menganggap manajer berhasil bila mencapai
tingkat keuntungan sehingga mengakibatkan manajer perusahaan hanya berorientasi
pada keuntungan jangka pendek dan cenderung mengabaikan keberhasilan perusahaan
dalam jangka panjang. Pengukuran kinerja dari aspek keuangan mudah dimanipulasi
sesuai dengan kepentingan manajemen sehingga hasilnya kurang tepat jika
diterapkan dalam sebuah rumah sakit umum yang merupakan organisasi yang
bergerak dalam bidang pelayanan jasa, karena tujuan rumah sakit adalah
memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Selain itu
dengan pengukuran kinerja yang hanya berdasarkan faktor keuangan saja
mengakibatkan banyak sumber daya potensial yang berada di dalam rumah sakit
tidak dapat terukur. Kinerja keuangan yang terlihat baik pada saat ini bisa
saja karena telah mengorbankan kepentingan jangka panjang organisasi.
Sebaliknya, kinerja keuangan keuangan yang kurang baik saat ini bisa terjadi
karena organisasi melakukan investasi-investasi demi kepentingan jangka
panjang. 

Pengukuran kinerja yang hanya didasarkan atas
pengukuran keuangan saja dirasa sudah tidak lagi memadai. Perusahaan juga
diharuskan melakukan pengukuran kinerjanya tidak hanya melalui pengukuran
terhadap kinerja keuangan saja tetapi juga melalui pengukuran non keuangan, hal
ini dimaksudkan untuk dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan unit usaha.
Perusahaan dalam tingkat persaingan global ini dituntut untuk memperoleh
keuntungan kompetitif agar dapat bertahan dalam persaingan. Kemampuan
perusahaan dalam menciptakan keuntungan kompetitif ini akan memperkuat posisi
perusahaan dalam persaingan bisnis dalam jangka panjang. Perusahaan melakukan
berbagai upaya untuk mampu bertahan dalam iklim dunia usaha yang kompetitif,
diantaranya perusahaan dituntut agar mampu mewujudkan strategi-strategi
perusahaan jangka panjang. Strategi-strategi jangka panjang tersebut akan
diwujudkan dan diterjemahkan dalam serangkaian aktivitas perusahaan, oleh
karena itu pengukuran kinerja hanya dari perspektif keuangan tidaklah memadai lagi sehingga
diperlukan suatu alat yang dapat mengukur kinerja dari berbagai perspektif
secara komprehensif. 

Balanced
Scorecard  sebagai
salah satu konsep pengukuran kinerja yang baru muncul dari adanya
perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia bisnis. Balanced Scorecard merupakan sebuah pengembangan dari cara
pengukuran keberhasilan organisasi di dalam perusahaan dengan mengintegrasikan
beberapa teknik pengukuran atau penilaian kinerja terpisah-pisah. (Hadari
Nawawi, 2006: 212). Balanced Scorecard
memperluas ukuran  kinerja eksekutif  ke perspektif konsumen, proses bisnis
internal, dan pembelajaran & pertumbuhan, karena di ketiga perspektif
itulah usaha-usaha sesungguhnya (bukan usaha semu atau artificial) menjanjikan dihasilkannya kinerja keuangan yang
berjangka panjang (sustainable). 

Balanced  Scorecard  yang 
mengembangkan  tiga  perspektif 
baru dalam menilai kinerja yaitu perspektif konsumen, perspektif proses
bisnis internal, perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Sebagai suatu metode
pengukuran kinerja, Balanced Scorecard lebih
dari sekedar sebuah sistem pengendalian tetapi Balanced Scorecard merupakan suatu metode yang digunakan sebagai
sistem komunikasi, informasi dan pembelajaran. Di dalam Balanced Scorecard, pengukuran kinerja didasarkan atas 4
perspektif, yaitu (a) Keuangan, (b) Pelanggan, (c) Proses bisnis internal, dan
(d) Pembelajaran dan pertumbuhan.  

Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan yang
merupakan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah
setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan bertujuan untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. 

Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
merupakan salah satu Rumah Sakit Milik
Pemerintah Kota Pontianak yang berusaha memberikan pelayanan
kesehatan secara profesional, serta tercapainya kepuasan pelanggan dan
terciptanya kualitas sumber daya manusia yang berbasis kompetensi sehingga
memaksa pihak Rumah Sakit Umum
Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie untuk
selalu memperbaiki kinerjanya agar dapat menambah kepercayaan masyarakat atas
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
Kepercayaan ini sangat penting, mengingat masyarakat merupakan pengguna jasa
utama. Diharapkan dengan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap rumah
sakit akan berdampak pada pendapatan rumah sakit serta perbaikan kinerja secara
menyeluruh. 

Mutu pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
sejauh ini bisa dikatakan kurang, hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi rendahnya mutu pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie,
untuk saat ini meliputi faktor input diantaranya sarana fisik yang belum sesuai
dengan standar pelayanan yaitu Ruang IGD yang dimiliki Rumah sakit belum
memiliki ruang triage untuk
mengklasifikasikan tingkat kegawatdaruratan pasien, perlengkapan dan peralatan
kegawatdaruratan yang belum lengkap serta keterbatasan dalam sumber daya
manusia, dalam hal ini yaitu daya tanggap para
karyawan terhadap kondisi gawat darurat yang masih rendah yang disebabkan masih
adanya beberapa perawat yang belum mengikuti pelatihan tanggap darurat.    

Sejauh ini Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
belum
menerapkan metode Balanced Scorecard sebagai
metode dalam pengukuran kinerja perusahaan, pengukuran kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
hanya dilihat dari ukuran keuangan dan ukuran kinerja yang didasarkan pada
standar pemerintah. Dalam pengukuran kinerja pada Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
menggunakan
pengukuran kinerja pada ukuran keuangan menggunakan rasio-rasio keuangan,
sedangkan untuk standar pemerintah pihak rumah sakit menggunakan
indikator-indikator standar pelayanan yang ditetapkan oleh  pemerintah yakni Bed Occupancy Rate (BOR), Average
Length of Stay (ALOS), Turn Over
Interval (TOI), Net Death Rate
(NDR), Gross Death Rate (GDR). Dalam
pengukuran Kinerja pada sebuah perusahaan yang mengacu pada pengukuran kinerja
dengan ukuran keuangan dan indikatorindikator yang terdapat dalam standar
pelayanan yang ditetapkan pemerintah, pengukuran kinerja tersebut masih belum
mampu mencerminkan kinerja rumah sakit yang sesungguhnya karena terdapat aspek
lain yang belum masuk di dalam kriteria penilaian pada rumah sakit, misalnya
seperti kepuasan pelanggan, retensi karyawan dan aspek-aspek lainnya yang masih
dapat dijadikan indikator ukuran kinerja suatu perusahaan dalam menentukan
kinerjanya sehingga dalam pengukuran kinerja rumah sakit dapat menyeluruh
(komprehensif). 

Pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
membutuhkan
informasi tentang kinerja rumah sakit yang menyeluruh (komprehensif) demi
pencapaian tujuan dan kemajuan rumah sakit di masa yang akan datang. Pihak
manajemen rumah sakit membutuhkan informasi kinerjanya tidak hanya mengacu pada
aspek keuangan dan standar pelayanan nasional yang ditentukan oleh pemerintah tetapi
juga indikator-indikator yang lain yang dapat dijadikan ukuran menyatakan
apakah kinerja rumah sakit dikatakan baik atau buruk. 

 

 

Tabel 1.1

Rincian
Penerimaan

Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie

 Tahun 2015 – 2016

 

No

Uraian

 

Tahun

 

 

2015

 

2016

 

1

Rawat
Jalan Jaminan Pelayanan Kesehatan

Rp

   6.801.800.000

 Rp

 7.045.269.912

 

2

Rawat Inap Jaminan Pelayanan Kesehatan

Rp

     9,152,760,000.00

 Rp

  9,552,116,755.00

 

3

instalasi
Radiologi

Rp

         82,452,000.00

 Rp

     109,783,300.00

 

4

Instalasi
Laboratorium

Rp

        359,568,450.00

 Rp

     426,000,000.00

 

5

IGD

Rp

        307,200,000.00

 Rp

     631,285,175.00

 

6

Ambulance / Mobil Jenazah

Rp

         40,932,000.00

 Rp

       67,414,100.00

 

7

Pemulasaran
dam Medis Legal

Rp

           2,720,000.00

 Rp

         2,950,000.00

 

8

Tindakan
Operasi

Rp

         11,092,000.00

 Rp

       85,700,000.00

 

9

Instalasi Farmasi

Rp

        778,764,000.00

 Rp

  1,521,213,125.00

 

 

JUMLAH

Rp

   10,735,488,450.00

 Rp

12,396,462,455.00

 

Sumber : Data Keuangan RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie,
2017

Pada
tabel 1.1 diatas menunjukkan bahwa dari 9 sumber penerimaan selama 2 tahun yaitu pada tahun 2015 penerimaan dari Rumah
Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
adalah Rp. 10.735.488.450 dan meningkat pada tahun 2016
sebesar Rp. 12.396.462.455,00 di bandingkan dengan tahun sebelumnya.

Oleh
sebab itu penulis tertarik untuk melakukan analisa kinerja tidak hanya dari
aspek keuangan saja tetapi juga
dari aspek non keuangan, melalui pendekatan konsep Balance scorercard.

Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
selama
ini perlu pengukuran kinerja dengan metode balanced
scorecard, dimana pengukuran kinerja yang selama ini digunakan yaitu
pengukuran dari aspek kinerja keuangan dan ukuran kinerja yang berdasarkan
standar yang ditetapkan oleh pemerintah tidak dapat menggambarkan kinerja rumah
sakit secara keseluruhan. Pengukuran kinerja keuangan hanya menilai kinerja
untuk jangka pendek dan tidak memperhitungkan harta-harta tak nampak yang
dimiliki rumah sakit sedangkan pada standar kinerja yang ditetapkan pemerintah
hanya mampu menggambarkan kinerja rumah sakit yang berkaitan pelayanan yang
diberikan rumah sakit yang berkaitan dengan penggunaan tempat tidur rumah sakit
dan penanganan pasien. Dengan adanya kekurangan tersebut, maka diciptakan suatu
metode pengukuran kinerja yang mempertimbangkan aspek keuangan dan non-keuangan
yang dikenal dengan istilah Balanced
Scorecard. Pengukuran kinerja Balanced
Scorecard menyangkut empat perspektif yaitu: Perspektif Keuangan,
Perspektif  Pelanggan,  Perspektif 
Proses  Bisnis  Internal 
dan  Perspektif Pembelajaran dan
Pertumbuhan.

Penggunaan metode Balanced Scorecard, sebagai metode pengukuran kinerja pada Rumah
Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie akan
memberikan gambaran kinerja rumah sakit dalam jangka panjang yang sangat
berguna bagi pihak manajemen sebagai informasi yang menyeluruh bagi
keberhasilan organisasi. Balanced
Scorecard sebagai suatu metode pengukuran kinerja dalam pelaksanaannya akan
memberikan gambaran mengenai keberhasilan dari tiga perspektif lain selain
keberhasilan dari perspektif keuangan yaitu perspektif pelanggan dapat
menunjukkan keberhasilan organisasi dalam menguasai pelanggannya, baik dalam
mempertahankan maupun menarik pelanggan baru selain itu dari perspektif ini
rumah sakit mampu melihat bagaimana pandangan pelanggan terhadap pelayanan yang
diberikan rumah sakit. Pengukuran kinerja dari perspektif pelanggan dapat
mengetahui tingkat kepuasan pelanggan, jika kinerja tingkat kepuasan pelanggan
buruk dapat menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun saat kinerja
keuangan terlihat baik. Berdasarkan perspektif proses bisnis internal pihak
manajemen mampu mengetahui bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan rumah
sakit terhadap pelanggannya, hasil dari penggukuran perspektif ini dapat
digunakan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas pelayanan
rumah sakit. Dari segi perspektif yang terakhir yaitu perspektif pembelajaran
dan pertumbuhan, pihak rumah sakit dapat mengetahui bagaimana produktivitas
karyawan dan bagaimana pemberian pengembangan pembelajaran untuk meningkatkan
keterampilan terhadap peningkatan kualitas karyawan, sehingga hasil pengukuran
perspektif dapat dijadikan sumber informasi dimana pihak manajemen perlu
peningkatan pelatihan bagi karyawan jika hasil dari perspektif ini dinilai
kurang baik. Hal ini dikarenakan organisasi bisnis harus terus meningkatkan
pengetahuan karyawan untuk meningkatkan kemampuannya untuk berpartisipasi dalam
pencapaian hasil dari tujuan perusahaan. Hasil pengukuran kinerja dengan
pendekatan balanced scorecard pada Rumah
Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie dapat
dijadikan bahan evaluasi yang menyeluruh jika hasil dari pengukuran kinerja
dari ke empat perspektif ini terdapat hasil yang kurang memuaskan sehingga
kinerja dari Rumah Sakit Umum
Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie dapat
terus-menerus memperbaiki kinerjanya demi pencapaian tujuan dan kemajuan rumah
sakit di masa yang akan datang.

Melihat fenomena tersebut di atas, maka
penulis memilih menggunakan alternatif pengukuran kinerja dengan pendekatan Balanced Scorecard pada Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
yang
lebih komprehensif, akurat, terukur karena selama ini pengukuran kinerja yang
dilakukan pihak Rumah Sakit Umum
Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie mengacu
pada aspek keuangan dan standar pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah.

 Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dikemukakan di atas, maka  penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:                      ” Pengukuran
Kinerja dengan Pendekatan         Balanced
Scorecard pada Rumah
Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Tahun 2015 dan 2016″.

 

1.2
Identifikasi
Masalah 

Berdasarkan latar belakang yang telah
penulis kemukakan, maka penulis mengidentifikasi beberapa masalah sebagai
berikut.

1.   
Kurangnya Informasi tentang kinerja
rumah sakit yang dibutuhkan pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie,
demi pencapaian tujuan dan kemajuan rumah sakit di masa yang akan datang.

2.   
Mutu pelayanan rumah sakit masih rendah
hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dalam hal sarana fisik yang belum
sesuai dengan standar pelayanan, perlengkapan dan peralatan kegawat daruratan yang belum lengkap serta
keterbatasan dalam sumber daya manusia.  

3.   
Metode pengukuran kinerja rumah sakit
yang digunakan hanya mengacu pada aspek keuangan dan standar penilaian yang
ditetapkan pemerintah padahal masih banyak indikator-indikator lain yang dapat
digunakan untuk mengukur kinerja rumah sakit.

1.3
Pembatasan
Masalah 

Pada latar belakang dan identifikasi
masalah telah dikemukakan masalahmasalah yang terjadi. Agar penelitian ini
dapat dibahas secara tuntas serta terfokus, maka diperlukan pembatasan masalah.
Penelitian ini hanya menitikberatkan pada pengukuran kinerja berdasarkan aspek Balanced Scorecard.

Penelitian
ini meneliti objek penelitian dalam kurun waktu dua tahun, yaitu tahun 2015 dan 2016. Penelitian dilakukan dengan
analisis data Rumah Sakit Umum
Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie. 

1.4
Rumusan
Masalah 

Berdasarkan uraian Pembatasan Masalah di
atas, maka penulis mencoba merumuskan permasalahan yaitu: “Bagaimana kinerja Rumah
Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie diukur dengan menggunakan Balanced Scorecard tahun 2015 dan 2016?”

1.5
Tujuan
Penelitian 

Berdasarkan Rumusan Masalah yang ada,
maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kinerja Rumah Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie bila diukur dengan menggunakan Balanced Scorecard tahun 2015 dan 2016.

1.6 Manfaat
Penelitian 

1.
Manfaat
Teoritis

a.      
Penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat sebagai pembuktian keefektivan penerapan  Balanced Scorecard sebagai
metode pengukuran kinerja yang komprehensif, koheren dan terukur pada suatu
perusahaan.  

b.     
Memberikan sumbangan terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang akuntansi sektor publik
yang berkaitan dengan pengukuran kinerja dengan analisis Balanced Scorecard.  

c.      
Sebagai sumber referensi bagi peneliti
lain yang berkeinginan melakukan penelitian sejenis.  

 

2.
Manfaat
Praktis

Penelitian
ini diharapkan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, yaitu
sebagai berikut:

a.   
Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie

Penelitian
ini bermanfaat sebagai alternatif pengukuran kinerja yang lebih komprehensif
dalam menilai kinerja manajemen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi berkaitan dengan pengukuran kinerja kepada Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
yang lebih baik dalam mencerminkan aktivitas perusahaan yang sesungguhnya dan
dapat digunakan sebagai bahan evaluasi kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie
demi
pencapaian tujuan dan kemajuan rumah sakit di masa yang akan datang.

b.   
Bagi Penulis  

Penelitian
ini diharapkan dapat menambah pengalaman serta menerapkan teori-teori
perkuliahan ke dalam praktek dunia usaha dan memberi gambaran nyata tentang
dunia usaha khususnya pengukuran kinerja dengan pendekatan Balanced Scorecard terutama pada perusahaan jasa pelayanan medis
seperti Rumah Sakit Umum Daerah
Sultan Syarif Mohammad Alkadrie.
Hasil penelitian ini berguna untuk menambah pengalaman dalam menerapkan
teori-teori yang telah dipelajari khususnya mengenai Sistem Pengendalian
Manajemen tentang Balanced Scorecard.