BAB atau rahang atas dan struktur gigi geligi dalam

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

A.   
Latar Belakang

Dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada bidang kesehatan, pemeriksaan radiologi merupakan
salah satu sarana yang digunakan sebagai acuan diagnosa dalam bidang kedokteran.
Dalam bidang pemeriksaan radiologi dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan
radiologi konvensional dan pemeriksaan radiologi imaging.(Purwanegara &
Iskandar, 2006).

Dalam pemanfaatannya,
radiologi memanfaatkan sinar-x dalam menghasilkan gambaran anatomi dan
fisiologi manusia.(Radiasi, Bidang,
Untuk, Masyarakat, & Nuklir-batan, 2008)

Pemeriksaan radiologi menjadi
salah satu penunjang dalam bidang kedokteran gigi. Periksaan radiologi sendiri
berfungsi untuk mendiagnosis kelainan seperti penyakit dan luka, jumlah,
susunan, posisi gigi dan tulang rahang dan masih banyak lagi (gigi sehat dan
cantic)

Dengan perkembangan yang
terjadi dalam bidang radiologi, pesawat panoramik menjadi multi fungsi, salah
satunya adalah pemeriksaan cephalometri. Pemeriksaan cephalometri menjadi salah
satu pemeriksaan untuk menunjang pemasangan kawat gigi sebagai bentuk terapi
untuk memperbaiki tulang rahang bawah atau rahang atas dan struktur gigi geligi
dalam bidang orthodrntic.

Kawat gigi di era lampau
dipandang sebagai hal yang aneh dan merepotkan, namun saat ini kawat gigi
popular dikalangan remaja. Selain memiliki fungsi memperbaiki tekstur rahang
maupun gigi, saat ini kawat gigi juga berfungsi sebagai hiasan di wajah untuk
mendukung penampilan seseorang (apa yang tidak)

Pemeriksaan cephalometri
dilakukan untuk dilakukan menggunakan pesawat panoramic yang dilakukan dalam
proyeksi lateral dan posterior anterior (PA). hasil gambaran yang dihasilkan
digunakan untuk mengitung dan memonitor pertumbuhan tulang-tulang wajah dan
gigi geligi. Pemeriksaan proyeksi lateral digunakan untuk melakukan analisa
tulang kepala dan tulang wajah sebagai bukti trauma, penyakit, ataupun
perkembangan dari suatu kelainan. Pemeriksaan ini menggambarkan soft tissue
nasofaring, sinus paranasal, palatum, dan sella turcica. Proyeksi
posterior-anterior (PA) dilakukan untuk melihan kemiringan tulang wajah dan
untuk Analisa sebelum dan sesudah dilakukannya tindakan orthognathic.(text book
freny)

RS Siloam TB Simatupang
melakukan pemeriksaan cephalometri menggunakan pesawat CR panoramic. Proyeksi
pemeriksaan yang digunakan hannya proproyeksi lateral. Pasien diposisikan
berdiri true lateral dengan bagian kepala sebelah kiri berada dekat dengan
kaset. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat soft tissue dan gambaran tulang
yang berguna sebgai dasar perhitungan orthodontic.

 

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan
latar belakang yang telah dijabarkan diatas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut ;

Bagaimana
prosedur pemeriksaan cephalometri dengan menggunakan Computed Radiography di RS Siloam TB Simatupang?

C.     Tujuan
Penelitian

1.      Tujuan
Umum

Mendeskripsikan prosedur  pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography di RS Siloam TB Simatupang

2.      Tujuan
khusus

a.       Untuk
mengetahui prosedur pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography di RS Siloam T.B Simatupang

b.      Untuk
mengetahui komponen-komponen yang digunakan pada
pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography

D.    Manfaat
penelitian

Manfaat
penelitian ini terdiri dari ;

1.      Secara
Teoritis

Untuk meningkatkan
pengetahuan tentang pemeriksaan cephalometri dengan mungganakan teknologi computed radiography.

2.      Secara
Praktis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II

KAJIAN
TEORI DAN KERANGKA KONSEP

 

A.   
Kajian
Teori

1.      Anatomi
Wajah

a.       Tulang
tulang wajah

 

1)      Tulang Hidung (os
nasal)

Tulang
hidung berfungsi sebagai penyangga hidung yang terhubung dengan septum nasal. adapun panjang tulang
hidung setiap individu dengan individu lain memiliki ukuran yang bervariasi. Os nasal terdiri dari dua bagian tulang
yang saking berdampingan dan  dihubungkan
oleh fissura internasalis. Tulang hidung berhubungan dengan beberapa tulang
disekitarnya, diantaranya os frontale yang
dihubungkan oleh sutura frontonatalis,

2)      Tulang Palatum

Tulang
palatum terdiri dari dua bagian yaitu palatum keras yang disusun oleh
tajuk-tajuk palatum dan wpalatum lunak yang merupakan lipatan menggantung yang
disusun oleh fibrus dan selaput lendir. Tulang palatum memiliki fungsi sebagai
pelindung organ dan pembentukan dasar dari rongga mata.

3)      Tulang Pipi (os
zygomaticum)

Os Zygomatic membentuk
permukaan muka yang menonjol. Os
zygomatic memiliki tepi lateral, medial, posterior, dan dua buah processus yaitu processus frontalis dan
processus temporalis. Dikalangan umum, tulang zygomatic dikenal juga
sebagai tulang pipi. Zygomatic terdiri dari empat pembatasan, yaitu pembatasan
orbital, pembatasan rahang, pembatasan temporal, dan pembatasan zygomatic

4)      Tulang Lakrimal

5)      Tulang Vomer

6)      Konka Nasal
inferior

7)      Tulang Rahang Bawah

Mandibula merupakan
pembentuk rahang bawah. Tulang ini berbentuk tapal kuda yang membentang secara
horizontal. Mandibula terdiri dari bagian badan (corpus), yaitu bagian badan tengah yang melengkung secara
horizontal yang membentuk dagu dan terdapat gigi bagian bawah serta terdapat dua
bagian tegak yaitu ramus

8)      Tulang Rahang Atas (Os Maxilla)

9)      Gigi

 

 

2.      Pemeriksaan
Cephalometri

a.      
Teknik pemeriksaan
Cephalometri

1.     
Lateral
Cephalogram

–         
Posisi kaset
diposisikan tegak lurus terhadap permukaan lantai pada tempat kaset

–         
Posisikan mid sagittal plane pasien tegak lurus
terhadap lantai. Lalu posisikan bagian kepala sebelah kanan pasien menghadap ke
kaset. Pastikan kepala pasien simetris dengan meperhatikan garis telinga,
posisi nasion dan garis orbita. Instruksikan pasien untuk merapatkan kedua sisi
giginya

–         
 Central
ray tegak lurus terhadap permukaan kaset pada porion. Jarak antara sinar-x
dan mid sagittal plane pasien adalah
60 Inci

 

2.     
PA Cephalogram

–         
Letakkan kaset
tegak lurus terhadap lantai pada tempat kaset dan atur sisi panjang kaset
secara vertical.

–         
Posisikan MSP
kepala pasien tegak lurus terhadap bidang kaset.

b. Teknik Pemeriksaan Cephalometri

 

3.      Pesawat
Cephalometri

B.    
Kerangka
Konsep

 

Pemeriksaan Cephalometri

 

Prosedur pemeriksaan
cephalometri

 

Komponen Computed

Radiography

 

 

Hasil radiografi
cephalometri

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.   
Desain
Penelitian

Jenis
Karya Tulis Ilmiah ini adalah jenis penelitian dengan menggunakan metode
deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk
menjelaskan tentang prosedur pemeriksaan Chepalometri yang biasa digunakan oleh
radiographer di Rumah Sakit TB Simatupang dan mendeskripiskan hasil gambaran
yang baik dan informatif untuk meneggakan diagnose.

 

B.    
Tempat
dan Waktu Penelitian

Waktu
penelitian Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan pada bulan Februari sampai April
2018 dan dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit TB Simatupang.

 

C.   
Populasi
dan Sampel

1.      Populasi

Populasi pada Karya Tulis Ilmiah ini
adalah seluruh pasien yang datang ke Instalasi Radiologi Rumah Sakit TB
Simatupang untuk melakukan pemeriksaan radiografi.

2.      Sampel

Sampel pada Karya Tulis Ilmiah ini yang
dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit TB Simatupang diambil pada
pemeriksaan radiografi Cephalometri. 

 

D.   
Metode
Pengumpulan Data

Metode
Pengumpulan Data diperoleh dengan cara mencari berbagai literature atau sumber
yang ada di perpustakaan Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Observasi atau melihat
secara langsung prosedur pemeriksaan Chepalometri di Instalasi Radiologi Rumah
Sakit TB Simatupang, serta mewawancarai pihak-pihak yang memahami tentang
teknik radiografi Cepalometri dan manfaat dari proyeksi yang dilakukan pada
pemeriksaan Chepalometri (dokter dan radiographer).

 

E.    
Instrumen
Penelitian

Instrument
Penelitian yang dipakai pada saat mengumpulkan data dan mengolah data yaitu
alat tulis, kamera untuk merekam atau megambil foto, lembar kerja , dan lembar
wawancara.

 

F.    
Pengolahan
Data

Data yang diperoleh dari
pengumpulan data akan dianalisis dengan cara membandingkan hasil observasi
dengan teori yang sudah ada.